Bilah-bilah mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar kami. Aku membalik tubuh sehingga wajah kita berhadap-hadapan. Dari jarak sedekat ini dan karena lelap tidurmu, dengan leluasa kuamati wajahmu, tanpa harus saling jengah ataupun tersipu.
Ada yang bilang, tiap-tiap manusia memiliki indera ekstra untuk merasa jika dirinya sedang diamati oleh manusia lain. Mungkin memang iya, semacam naluri hewani untuk proteksi diri. Indera-indera yang belum lulus uji kelayakan karena berkaitan dengan 'alam ghoib' yang sulit dibuktikan secara ilmiah.
Coba saja kamu amati wajah seseorang yang tak kamu kenali di halte dari jarak beberapa meter. Jeda beberapa detik, orang tersebut pasti akan merasa dirinya diawasi dan menoleh ke arahmu, pandangan kalian beradu dan dalam pecahan detik tatapanmu akan beralih ke tempat lain. Malu. Tapi, kenapa harus malu ya?
Dan kini aku menikmati kecuranganku. Menatap wajah yang pasrah dengan rambut awut-awutan yang biasanya rapih dibelah pinggir. Lengan kirimu masih belum berpindah dari pinggang ini sejak malam tadi ketika kami berdiskusi sambil terkantuk-kantuk. Sedang lenganmu yang satunya tersembunyi di bawah bantal kepalamu. Kuperhatikan bibirmu yang kehitam-hitaman akibat asap rokok yang setiap hari kamu hisap namun menghidupi kita dari hari ke hari. Menghidupi kita, tetapi membunuhmu pelan-pelan, sayang.
Betapa dulu kuberharap memiliki pasangan hidup yang anti-rokok, eh malah nemu yang kerja sebagai karyawan sebuah perusahaan rokok. Meruntuhkan sebuah idealisme tapi justru mengukuhkan idealisme lain, yaitu mampu menerima orang lain seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tentunya dengan sebelumnya sadar dan menerima diri kita sendiri sebagai makhluk yang tidak sempurna, kemudian belajar mencintai diri itu sebelum selanjutnya membagi cinta yang dimilikinya kepada diri yang lain. Ah, teori...
Tak tahan, akhirnya kuangkat lengan kananku yang bebas, dan kupinggirkan rambut yang menutupi dahimu. Tahukah kamu bahwa saya sedang menginjeksi morphin alami kedalam tubuhmu dan pikiranmu, membuatmu semakin mencandu kasih sayangku yang takkan habis stoknya sampai kapanpun, itu juga selama kamu masih menginginkannya...
Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh. Biasanya dilepaskan di tengah kegiatan olahraga yang intens seperti jogging, sehingga memicu "runners high", bisa juga dilepaskan oleh tubuh setiap merasakan belaian sayang di kepala atau dahi. Orang tua biasa melakukan hal ini terhadap anak lantaran sayang dan secara tidak sadar menyebabkan ketergantungan anak terhadap kasih sayang mereka. Dan kasih sayang seperti ini adalah nutrisi terbaik pertumbuhan otak dan mental anak. Jauh lebih baik dari AHA dan DHA atau apalah yang ditawarkan oleh pabrik susu formula. Entah mendapat ilham dari mana, Rasul kita yang bukanlah seorang dokter spesialis neurologi, menganjurkan agar kita rajin membelai kepala anak yatim-piatu... Subhanallah!
Setelah beberapa menit menikmati lembutnya rambutmu disela-sela jariku, lengan kirimu yang sedari tadi tidak berubah tempat, menarik tubuhku merapat. Aku terkikik geli menyadari betapa ampuhnya membangunkan seseorang dengan kasih sayang. Tanpa perlu marah-marah dan merusak mood orang di pagi hari. Kamu kemudian-
-to be continued by request-
0 件のコメント:
コメントを投稿