Kau kemudian membenamkan wajahmu dalam riap gelombang rambut panjangku. Meresapi bau khas keringatku yang katamu serupa kue kelapa. Membawamu kembali ke masa kecilmu dan almarhumah nenek yang selalu menyimpannya sebagai cemilan penghibur setiap kamu dimarahi oleh ibu.
Aku tak tahu siapa yang beruntung di sini. Akukah? Lantaran memiliki bau yang menjadi salah satu daya pikatku untuk mengikatmu di luar rasionalitas berpikir melainkan karena dipicu oleh sensor penciuman dan kenangan manis di masa kanak-kanak? Atau kamu? Disebabkan jarang sekali seseorang bisa seberuntung kamu memperoleh kembali aroma masa lalunya pada sosok yang berarti baginya.
Biasanya bau-bauan dari masa lampau hanya akan melintas di depan hidung kita sesekali tanpa terencana dan menghilang begitu saja tanpa permisi. Bau cologne mantan pacar ketika SMA misalnya, yang tak sengaja tercium pada seorang ibu yang berpapasan denganmu di mal. Hanya pada saat itu saja kejadiannya. Tidak mungkin kamu lalu mengejar ibu itu dan menghirupi bau beliau sepuas-puasnya hanya karena kangen sama si mantan pacar. Pendek kata, aku bersyukur tumbuh dengan bau khas yang bisa membawamu kembali ke momen-momen emas kasih sayang nenek yang telah lama tiada.
Dan bau yang kini kucium dari ubun-ubunmu kini adalah bau yang dulu kubenci. Akan tetapi karena bau tersebut ada padamu, suamiku, tak ada pilihan lain untuk menerimanya sebagai bagian dari satu kesatuan paket dirimu.
Pasti kau baru saja menghabiskan sebatang rokok di tepian jendela kamar, duduk bersandar pada kusen jendela dan berpikir. Entah apa yang kamu pikirkan. Sudah beberapa hari ini aku terbangun dan menatap punggungmu yang seolah sedang menanggung beban berat di hadapan koleksi anggrek titipan Mama sembari menyaksikan cahaya putih fajar yang membelah birunya malam.
Kamu memang tidak biasa membagi beban pikiranmu pada siapapun dengan sengaja. Selama ini, kau simpan sendiri seluruh masalahmu. Sedangkan satu-satunya caraku membantumu hanya dengan merangkulmu, memberimu rasa nyaman agar tercipta suasana kondusif bagi hati dan pikiranmu untuk mencari sendiri jalan keluarnya. Hal ini jauh lebih baik daripada memaksa orang lain untuk bercerita mengenai masalahnya sedangkan kita sendiri tidak yakin dapat memberi solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan orang tersebut. Buang-buang waktu dan perasaan saja.
Seperti saat ini di dalam dekapanmu. Kutahu kau sedang gundah memikirkan sesuatu. Tidak kutunjukkan kekhawatiranku, malahan kukecupi ubun-ubunmu, turun ke kedua kelopak matamu, hidungmu, pipi kiri dan kanan, dan akhirnya pada bibirmu dimana seluruh puisi cinta di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sepasang bibir yang terpagut dalam ritme pelan saling mengisi, menjelajahi, memberi dan menerima. Ciuman yang kuharap menyampaikan pesan: "Jernihlah dalam berpikir, mas. Aku ada di sini."
16.10.08
15.10.08
ROL by Dony Kurniawan
Ray Of Light, hanya bisa tertangkap kamera jika ada lumens yang lebih kuat intensitasnya dibanding dengan cahaya sekitar dan partikel-partikel lembut yang bertebaran disekitarnya akan menguatkannya.
Kamar ini diterangi bilah-bilah sinar itu, aku terlalu malas untuk sekedar mengambil kamera dan mengabadikannya, otakku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga membuatnya melambat, berkurang kapasitasnya.
Hampir semua orang pernah merasakan betapa cinta memiliki sisi gelap yang bernama ”Obsesi”. Jika asmara yang semula merupakan ketukan lembut di pintu hati seseorang yang kita sayangi, kadang tanpa sadar ketukan itu sudah berubah menjadi gedoran yang tidak sopan. Menyimpan obsesi pada seseorang disuatu waktu adalah kesalahan yang sulit dihindari.
Ada beberapa potensi kerugian yang amat mungkin terjadi dari hal ini. Pertama, itu jelas melanggar aturan paling pokok dalam mendekati lawan jenis ”Jangan melakukan pendekatan ketika sudah mulai kehilangan penilaian objektif atas sasaran”. Kedua, potensinya amat besar dalam meluluhkan mood dan merupakan cara yang tepat untuk menguras energi, perasaan, dan otak.
Ah teori...
Mengenalnya, jelas bukan kesalahan. Terobsesi padanya mungkin satu-satunya hal yang paling objektif dariku, memilikinya adalah adalah anugerah. Berkali-kali kuyakinkan hal itu dan kutanamkan dalam-dalam di benak sampai berkarat. Jika pagi ini aku termangu didekat jendela kamar dan terus-menurus mencari pembenaran..? mungkin hanya otakku yang perlu ditertibkan, diajari untuk stop berpikir dan beriterasi !!
Hari masih terlalu pagi...dan segera kujauhi jendela untuk kembali berbaring diranjang, didekatnya, mendengarkan nafasnya teratur, ritmis. Ternyat masih menjadi cara paling efektif untuk menghentikan otakku yang berputar-putar ketika ada didekatnya, mencium bau badannya, kuresapi saat itu seolah waktu terhenti, dan bumi tak berevolusi.
Kemudian kurasakan hembusan nafas halus dimukaku, tangan yang berlahan mengacak rambutku, menyibaknya dari dahi, kuputuskan tetap terpejam. Aku takut merusak moment itu dan membuatnya malu memandangku. Kubayangkan dia tersenyum dan berhati-hati mengerakkan tangannya, menyalurkan energi cinta ketubuhku serupa Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh sehingga membuatku ketagihan.
Betapa dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku adalah kebenaran buatnya meski itu menentang banyak prinsip dari hidupnya. Betapa dia juga mencari pembenaran-pembenaran atas banyak kelemahan dan kekuranganku. Menggunakan kekuatannya untuk mendukungku, memberikanku harapan. Ya, mungkin aku bukan hal yang ideal buatnya, tetapi pada suatu waktu hatinya memutuskan untuk membuang mimpinya dan merengkuh tanganku, dan atas nama kasih sayang, cinta dan gairah untuk memiliki, tiba saat itu, pada sebuah kesempatan yang lebih realitis berkata ”aku ingin serius dan berpikir untuk menikahimu, jika engkau menginginkannya”.
Jemarinya masih mengacak rambutku, ketika kurengkuh dia mendekat. Senyuman sepagi ini dan tawa kecilnya membuatku segera tersadar, adalah cinta yang akan menuntunku hari ini, tanpa tatapan kosong dan hati membatu. Sekedar hembusan nafasmu sedekat ini yang membimbing sisa waktuku nanti. Saat ini aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat bilah-bilah sinar mentari pagi turun dan menerangi kamar kami, entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya seakan aku mampu menggapai dirinya dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Ray Of Light, hanya bisa tertangkap kamera jika ada lumens yang lebih kuat intensitasnya dibanding dengan cahaya sekitar dan partikel-partikel lembut yang bertebaran disekitarnya akan menguatkannya, Sayang, engkau Ray of Light-ku sepanjang hari.
Kamar ini diterangi bilah-bilah sinar itu, aku terlalu malas untuk sekedar mengambil kamera dan mengabadikannya, otakku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga membuatnya melambat, berkurang kapasitasnya.
Hampir semua orang pernah merasakan betapa cinta memiliki sisi gelap yang bernama ”Obsesi”. Jika asmara yang semula merupakan ketukan lembut di pintu hati seseorang yang kita sayangi, kadang tanpa sadar ketukan itu sudah berubah menjadi gedoran yang tidak sopan. Menyimpan obsesi pada seseorang disuatu waktu adalah kesalahan yang sulit dihindari.
Ada beberapa potensi kerugian yang amat mungkin terjadi dari hal ini. Pertama, itu jelas melanggar aturan paling pokok dalam mendekati lawan jenis ”Jangan melakukan pendekatan ketika sudah mulai kehilangan penilaian objektif atas sasaran”. Kedua, potensinya amat besar dalam meluluhkan mood dan merupakan cara yang tepat untuk menguras energi, perasaan, dan otak.
Ah teori...
Mengenalnya, jelas bukan kesalahan. Terobsesi padanya mungkin satu-satunya hal yang paling objektif dariku, memilikinya adalah adalah anugerah. Berkali-kali kuyakinkan hal itu dan kutanamkan dalam-dalam di benak sampai berkarat. Jika pagi ini aku termangu didekat jendela kamar dan terus-menurus mencari pembenaran..? mungkin hanya otakku yang perlu ditertibkan, diajari untuk stop berpikir dan beriterasi !!
Hari masih terlalu pagi...dan segera kujauhi jendela untuk kembali berbaring diranjang, didekatnya, mendengarkan nafasnya teratur, ritmis. Ternyat masih menjadi cara paling efektif untuk menghentikan otakku yang berputar-putar ketika ada didekatnya, mencium bau badannya, kuresapi saat itu seolah waktu terhenti, dan bumi tak berevolusi.
Kemudian kurasakan hembusan nafas halus dimukaku, tangan yang berlahan mengacak rambutku, menyibaknya dari dahi, kuputuskan tetap terpejam. Aku takut merusak moment itu dan membuatnya malu memandangku. Kubayangkan dia tersenyum dan berhati-hati mengerakkan tangannya, menyalurkan energi cinta ketubuhku serupa Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh sehingga membuatku ketagihan.
Betapa dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku adalah kebenaran buatnya meski itu menentang banyak prinsip dari hidupnya. Betapa dia juga mencari pembenaran-pembenaran atas banyak kelemahan dan kekuranganku. Menggunakan kekuatannya untuk mendukungku, memberikanku harapan. Ya, mungkin aku bukan hal yang ideal buatnya, tetapi pada suatu waktu hatinya memutuskan untuk membuang mimpinya dan merengkuh tanganku, dan atas nama kasih sayang, cinta dan gairah untuk memiliki, tiba saat itu, pada sebuah kesempatan yang lebih realitis berkata ”aku ingin serius dan berpikir untuk menikahimu, jika engkau menginginkannya”.
Jemarinya masih mengacak rambutku, ketika kurengkuh dia mendekat. Senyuman sepagi ini dan tawa kecilnya membuatku segera tersadar, adalah cinta yang akan menuntunku hari ini, tanpa tatapan kosong dan hati membatu. Sekedar hembusan nafasmu sedekat ini yang membimbing sisa waktuku nanti. Saat ini aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat bilah-bilah sinar mentari pagi turun dan menerangi kamar kami, entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya seakan aku mampu menggapai dirinya dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Ray Of Light, hanya bisa tertangkap kamera jika ada lumens yang lebih kuat intensitasnya dibanding dengan cahaya sekitar dan partikel-partikel lembut yang bertebaran disekitarnya akan menguatkannya, Sayang, engkau Ray of Light-ku sepanjang hari.
14.10.08
Sebuah fiksi or khayalan maybe...yang penting kan ngga berbuat dosa.
Bilah-bilah mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar kami. Aku membalik tubuh sehingga wajah kita berhadap-hadapan. Dari jarak sedekat ini dan karena lelap tidurmu, dengan leluasa kuamati wajahmu, tanpa harus saling jengah ataupun tersipu.
Ada yang bilang, tiap-tiap manusia memiliki indera ekstra untuk merasa jika dirinya sedang diamati oleh manusia lain. Mungkin memang iya, semacam naluri hewani untuk proteksi diri. Indera-indera yang belum lulus uji kelayakan karena berkaitan dengan 'alam ghoib' yang sulit dibuktikan secara ilmiah.
Coba saja kamu amati wajah seseorang yang tak kamu kenali di halte dari jarak beberapa meter. Jeda beberapa detik, orang tersebut pasti akan merasa dirinya diawasi dan menoleh ke arahmu, pandangan kalian beradu dan dalam pecahan detik tatapanmu akan beralih ke tempat lain. Malu. Tapi, kenapa harus malu ya?
Dan kini aku menikmati kecuranganku. Menatap wajah yang pasrah dengan rambut awut-awutan yang biasanya rapih dibelah pinggir. Lengan kirimu masih belum berpindah dari pinggang ini sejak malam tadi ketika kami berdiskusi sambil terkantuk-kantuk. Sedang lenganmu yang satunya tersembunyi di bawah bantal kepalamu. Kuperhatikan bibirmu yang kehitam-hitaman akibat asap rokok yang setiap hari kamu hisap namun menghidupi kita dari hari ke hari. Menghidupi kita, tetapi membunuhmu pelan-pelan, sayang.
Betapa dulu kuberharap memiliki pasangan hidup yang anti-rokok, eh malah nemu yang kerja sebagai karyawan sebuah perusahaan rokok. Meruntuhkan sebuah idealisme tapi justru mengukuhkan idealisme lain, yaitu mampu menerima orang lain seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tentunya dengan sebelumnya sadar dan menerima diri kita sendiri sebagai makhluk yang tidak sempurna, kemudian belajar mencintai diri itu sebelum selanjutnya membagi cinta yang dimilikinya kepada diri yang lain. Ah, teori...
Tak tahan, akhirnya kuangkat lengan kananku yang bebas, dan kupinggirkan rambut yang menutupi dahimu. Tahukah kamu bahwa saya sedang menginjeksi morphin alami kedalam tubuhmu dan pikiranmu, membuatmu semakin mencandu kasih sayangku yang takkan habis stoknya sampai kapanpun, itu juga selama kamu masih menginginkannya...
Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh. Biasanya dilepaskan di tengah kegiatan olahraga yang intens seperti jogging, sehingga memicu "runners high", bisa juga dilepaskan oleh tubuh setiap merasakan belaian sayang di kepala atau dahi. Orang tua biasa melakukan hal ini terhadap anak lantaran sayang dan secara tidak sadar menyebabkan ketergantungan anak terhadap kasih sayang mereka. Dan kasih sayang seperti ini adalah nutrisi terbaik pertumbuhan otak dan mental anak. Jauh lebih baik dari AHA dan DHA atau apalah yang ditawarkan oleh pabrik susu formula. Entah mendapat ilham dari mana, Rasul kita yang bukanlah seorang dokter spesialis neurologi, menganjurkan agar kita rajin membelai kepala anak yatim-piatu... Subhanallah!
Setelah beberapa menit menikmati lembutnya rambutmu disela-sela jariku, lengan kirimu yang sedari tadi tidak berubah tempat, menarik tubuhku merapat. Aku terkikik geli menyadari betapa ampuhnya membangunkan seseorang dengan kasih sayang. Tanpa perlu marah-marah dan merusak mood orang di pagi hari. Kamu kemudian-
-to be continued by request-
Ada yang bilang, tiap-tiap manusia memiliki indera ekstra untuk merasa jika dirinya sedang diamati oleh manusia lain. Mungkin memang iya, semacam naluri hewani untuk proteksi diri. Indera-indera yang belum lulus uji kelayakan karena berkaitan dengan 'alam ghoib' yang sulit dibuktikan secara ilmiah.
Coba saja kamu amati wajah seseorang yang tak kamu kenali di halte dari jarak beberapa meter. Jeda beberapa detik, orang tersebut pasti akan merasa dirinya diawasi dan menoleh ke arahmu, pandangan kalian beradu dan dalam pecahan detik tatapanmu akan beralih ke tempat lain. Malu. Tapi, kenapa harus malu ya?
Dan kini aku menikmati kecuranganku. Menatap wajah yang pasrah dengan rambut awut-awutan yang biasanya rapih dibelah pinggir. Lengan kirimu masih belum berpindah dari pinggang ini sejak malam tadi ketika kami berdiskusi sambil terkantuk-kantuk. Sedang lenganmu yang satunya tersembunyi di bawah bantal kepalamu. Kuperhatikan bibirmu yang kehitam-hitaman akibat asap rokok yang setiap hari kamu hisap namun menghidupi kita dari hari ke hari. Menghidupi kita, tetapi membunuhmu pelan-pelan, sayang.
Betapa dulu kuberharap memiliki pasangan hidup yang anti-rokok, eh malah nemu yang kerja sebagai karyawan sebuah perusahaan rokok. Meruntuhkan sebuah idealisme tapi justru mengukuhkan idealisme lain, yaitu mampu menerima orang lain seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tentunya dengan sebelumnya sadar dan menerima diri kita sendiri sebagai makhluk yang tidak sempurna, kemudian belajar mencintai diri itu sebelum selanjutnya membagi cinta yang dimilikinya kepada diri yang lain. Ah, teori...
Tak tahan, akhirnya kuangkat lengan kananku yang bebas, dan kupinggirkan rambut yang menutupi dahimu. Tahukah kamu bahwa saya sedang menginjeksi morphin alami kedalam tubuhmu dan pikiranmu, membuatmu semakin mencandu kasih sayangku yang takkan habis stoknya sampai kapanpun, itu juga selama kamu masih menginginkannya...
Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh. Biasanya dilepaskan di tengah kegiatan olahraga yang intens seperti jogging, sehingga memicu "runners high", bisa juga dilepaskan oleh tubuh setiap merasakan belaian sayang di kepala atau dahi. Orang tua biasa melakukan hal ini terhadap anak lantaran sayang dan secara tidak sadar menyebabkan ketergantungan anak terhadap kasih sayang mereka. Dan kasih sayang seperti ini adalah nutrisi terbaik pertumbuhan otak dan mental anak. Jauh lebih baik dari AHA dan DHA atau apalah yang ditawarkan oleh pabrik susu formula. Entah mendapat ilham dari mana, Rasul kita yang bukanlah seorang dokter spesialis neurologi, menganjurkan agar kita rajin membelai kepala anak yatim-piatu... Subhanallah!
Setelah beberapa menit menikmati lembutnya rambutmu disela-sela jariku, lengan kirimu yang sedari tadi tidak berubah tempat, menarik tubuhku merapat. Aku terkikik geli menyadari betapa ampuhnya membangunkan seseorang dengan kasih sayang. Tanpa perlu marah-marah dan merusak mood orang di pagi hari. Kamu kemudian-
-to be continued by request-
登録:
投稿 (Atom)