16.10.08

The Kiss...

Kau kemudian membenamkan wajahmu dalam riap gelombang rambut panjangku. Meresapi bau khas keringatku yang katamu serupa kue kelapa. Membawamu kembali ke masa kecilmu dan almarhumah nenek yang selalu menyimpannya sebagai cemilan penghibur setiap kamu dimarahi oleh ibu.

Aku tak tahu siapa yang beruntung di sini. Akukah? Lantaran memiliki bau yang menjadi salah satu daya pikatku untuk mengikatmu di luar rasionalitas berpikir melainkan karena dipicu oleh sensor penciuman dan kenangan manis di masa kanak-kanak? Atau kamu? Disebabkan jarang sekali seseorang bisa seberuntung kamu memperoleh kembali aroma masa lalunya pada sosok yang berarti baginya.

Biasanya bau-bauan dari masa lampau hanya akan melintas di depan hidung kita sesekali tanpa terencana dan menghilang begitu saja tanpa permisi. Bau cologne mantan pacar ketika SMA misalnya, yang tak sengaja tercium pada seorang ibu yang berpapasan denganmu di mal. Hanya pada saat itu saja kejadiannya. Tidak mungkin kamu lalu mengejar ibu itu dan menghirupi bau beliau sepuas-puasnya hanya karena kangen sama si mantan pacar. Pendek kata, aku bersyukur tumbuh dengan bau khas yang bisa membawamu kembali ke momen-momen emas kasih sayang nenek yang telah lama tiada.

Dan bau yang kini kucium dari ubun-ubunmu kini adalah bau yang dulu kubenci. Akan tetapi karena bau tersebut ada padamu, suamiku, tak ada pilihan lain untuk menerimanya sebagai bagian dari satu kesatuan paket dirimu.

Pasti kau baru saja menghabiskan sebatang rokok di tepian jendela kamar, duduk bersandar pada kusen jendela dan berpikir. Entah apa yang kamu pikirkan. Sudah beberapa hari ini aku terbangun dan menatap punggungmu yang seolah sedang menanggung beban berat di hadapan koleksi anggrek titipan Mama sembari menyaksikan cahaya putih fajar yang membelah birunya malam.

Kamu memang tidak biasa membagi beban pikiranmu pada siapapun dengan sengaja. Selama ini, kau simpan sendiri seluruh masalahmu. Sedangkan satu-satunya caraku membantumu hanya dengan merangkulmu, memberimu rasa nyaman agar tercipta suasana kondusif bagi hati dan pikiranmu untuk mencari sendiri jalan keluarnya. Hal ini jauh lebih baik daripada memaksa orang lain untuk bercerita mengenai masalahnya sedangkan kita sendiri tidak yakin dapat memberi solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan orang tersebut. Buang-buang waktu dan perasaan saja.

Seperti saat ini di dalam dekapanmu. Kutahu kau sedang gundah memikirkan sesuatu. Tidak kutunjukkan kekhawatiranku, malahan kukecupi ubun-ubunmu, turun ke kedua kelopak matamu, hidungmu, pipi kiri dan kanan, dan akhirnya pada bibirmu dimana seluruh puisi cinta di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sepasang bibir yang terpagut dalam ritme pelan saling mengisi, menjelajahi, memberi dan menerima. Ciuman yang kuharap menyampaikan pesan: "Jernihlah dalam berpikir, mas. Aku ada di sini."

0 件のコメント: